: - Tuesday, 13-04-2021
  • 2 tahun yang lalu / Website resmi CU. Semandang Jaya Hits: 0

Pulau Kalimantan menyimpan beraneka ragam jenis tanam tumbuh yang bermanfaat baik sebagai sumber makanan, obat-obatan dan juga sebagai sumber penyedia bahan utama kayu. Banyak jenis kayu untuk membuat bangunan, salah satunya adalah Kayu Belian atau yang juga dikenal dengan sebutan Kayu Besi atau juga Kayu Ulin. Kayu Belian adalah jenis kayu nomor satu yang memiliki ketahanan sangat kuat sehingga banyak orang menggunakannya untuk bahan bangunan. Saat ini, keberadaan kayu ini terbilang sudah langka, sudah sulit untuk didapati, jika pun ada maka harganya cukup menguras isi dompet. Sekarang, keberadaan kayu ini sudah sulit ditemukan, sehingga menjadikannya sebagai jenis kayu langka. Tak lagi mudah untuk melihatnya berdiri kokoh dengan diameter besar di hutan. Hanya menyisakan tunggul dan potongan-potongan kecil yang tergeletak tak terpakai dibiarkan hingga membusuk di dalam hutan. 

Yoel dan Lesung Hasil Karyanya

Fakta inilah yang kemudian mendorong salah satu pria asal Kampung Tanjung Maju, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang untuk memanfaatkan sisa Kayu Belian yang tak terpakai dan ditinggalkan di dalam hutan. Sebut saja namanya Yoel (30), dia mengumpulkan potongan-potongan Kayu Belian untuk kemudian diolah menjadi barang yang bermanfaat.

Awalnya ayah dari tiga anak ini gelisah melihat sisa kayu yang tidak lagi terpakai itu. Dari pada lapuk tak berguna di hutan, timbul pemikirannya untuk mengolahnya menjadi benda yang bernilai. Kemudian Yoel pun dengan kemampuan dan keterbatasan peralatan yang ada berusaha mengolah sisa kayu itu menjadi lesung, sendok nasi, dan lesung cabe. 

Yoel merupakan salah seorang anggota CUSJ yang sudah bergabung sejak 2006 lalu. Dan semua anggota keluarganya sudah dimasukannya menjadi anggota. Menurut penuturannya saat ditemui pada 25 Februari 2020, dia sudah menggeluti pekerjaan tersebut sejak satu tahun yang lalu. Ketika memulai, banyak sekali kendala yang dihadapi, salah satunya adalah peralatan yang dimilikinya untuk mengolah kayu tadi belum lengkap. Tapi kendala itu tidak menyurutkan semangatnya, dan untuk membeli peralatan yang dibutuhkan Yoel memanfaatkan tabungannya yang ada di CUSJ. Yoel ini dikenal aktif menabung semenjak menjadi anggota CUSJ.

Dengan peralatan yang memadai, ia dengan saudara kandungnya bernama Domi dan satu orang karyawan lainnya, berhasil membuat kerajinan tangan dengan bentuk yang cukup unik, menarik, dan dibutuhkan banyak orang. “Dulu ketika peralatan belum lengkap, kami hanya mampu memproduksi 3 buah lesung dalam satu hari. Sekarang, dengan tenaga dan peralatan yang cukup memadai, kami bisa memproduksi sampai 10 buah dalam seharinya,”terang Yoel.

Hasil karya mereka itu sekarang banyak diminati, tidak lagi hanya di dalam kampung tetapi sudah melebar luas ke daerah-daerah lain. “Saat ini, penjualan baru mampu menjangkau kebutuhan masyarakat di 3 kecamatan, yakni Kecamatan Aur Kuning, Kecamatan Simpang Hulu dan Kecamatan Simpang Dua. Kedepan kami berharap bisa menjangkau pasar yang lebih luas lagi,” harap Yoel.

Patokan harga lesung dengan ukuran sedang Yoel tentukan sebesar 150 ribu per buahnya. Nilai ini termasuk murah dengan hasil karya kerajinan yang menarik dan dari bahan dengan kualitas kayu super. Yoel mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada CUSJ karena sudah membantunya membuat jalan usaha semakin mudah, sehingga sekarang ia bisa meningkatkan pendapatan keluarga mereka dari sisa potongan Kayu Belian yang sudah tidak terpakai. *Jonsen Rupinus

Hits: 33

TINGGALKAN KOMENTAR