: - Sunday, 09-05-2021

Saat ini organisasi diseluruh dunia dihadapkan pada perubahan yang sangat cepat dan dinamis. Saat ini organisasi harus mencari solusi untuk mempertahankan eksistensinya. Situasi yang terjadi menuntut Credit Union Semandang Jaya melakukan inovasi dengan menyusun strategi sesuai kondisi agar unggul dalam bersaing guna mempertahankan eksistensinya.

Atas inisiasi Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Ketapang dan para pendiri yang berjumlah 60 orang CUSJ yang didirikan  1 November 1991 didirikan dengan konsensus bersama dan dibangun dengan nilai-nilai luhur yang melekat dalam budaya masyarakat seperti gotong royong dan kebersamaan. Pada saat itu masyarakat di Desa Semandang Kiri belum mengenal bank dan lembaga keuangan lainnya, komunikasi dengan dunia luarpun sangat sulit hanya mengandalkan informasi dari mulut ke mulut ditambah jalur transportasi keluar atau ke kota yang hanya bisa dilewati melalui sungai  Semandang dan sungai yang berada disekitarnya sehingga menghambat masyarakat kampung untuk mendapatkan akses informasi dari luar kampung Balai Semandang. Dengan berdirinya CUSJ, maka tonggak pemberdayaan bagi masyarakat desa untuk mengelola ekonomi rumah tangganya agar meningkat semakin terbuka.

Foto: Usai Seminar Bersama Profesor Joko Murwono

Foto: Usai Seminar Bersama Profesor Joko Murwono

Diawal berdirinya, CUSJ masih dikelola secara tradisional, belum mengenal manajemen organisasi modern dan belum memiliki karyawan. Untuk menjalankan roda organisasi dilakukan oleh pengurus yang sekaligus merangkap sebagai pelaksana harian. Sebagai lembaga yang baru terbentuk, CUSJ pada saat itu menjadi lembaga yang masih tertutup dengan usaha pokok hanya pemberian pinjaman kepada anggota yang juga dari kalangan terbatas. Tahun 1991 sampai tahun 2000, CUSJ masih fokus pada proses pembelajaran berorganisasi karena tak dipungkiri selain sekolah dan pemerintahan desa, saat itu lembaga lain belum ada.  Pada masa ini pengelolaan lebih banyak dilakukan secara otodidak dengan segala keterbatasannya. Memasuki tahun 2000 para aktivis CUSJ mulai menyadari pentingnya pengembangan organisasi. Maka langkah awalnya adalah pengembangan sumberdaya manusia dengan cara mengirim beberapa aktivis untuk melakukan studi banding, mengikuti pendidikan dan latihan yang diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D) Kalbar yang sekarang menjadi BKCU Kalimantan. Seiring semakin bertambahnya pengetahuan dan pengalaman para aktivis maka pelan-pelan CUSJ mulai dikenal, berkembang dan diminati oleh masyarakat sebagai sarana untuk mengelola keuangan keluarga agar menjadi lebih baik dengan fasilitas pemberian pinjaman yang saat itu satu-satunya lembaga keuangan non bank penyedia layanan simpan-pinjam.

Menyesuaikan perkembangan zaman dan kebutuhan manajemen organisasi yang modern, CUSJ berupaya untuk mengembangkan lembaga agar tetap menjadi lembaga keuangan yang mampu menyesuaikan diri dengan cara berinovasi terus menerus agar tetap memberi manfaat bagi anggota dan masyarakat disekitar. Yang menjadikan lembaga ini tetap kuat dan eksis adalah adanya kepercayaan yang tinggi dari masyarakat dengan bertambahnya anggota. Pada September 2020, anggota CUSJ mencapai lebih dari 46 ribu orang. Untuk mengelola dan melayani anggota  sebanyak itu diperlukan sumberdaya manusia yang berkompetensi tinggi, profesional dan loyal dengan konsep kerja merupakan pelayanan terdepan bagi anggota. Kompetensi aktivisnya harus ditingkatkan baik skill maupun kecerdasan emosionalnya agar anggota yang dilayani merasa puas dan akhirnya tetap memilih CUSJ sebagai mitra dalam mengelola keuangan keluarga.

Sebagai organisasi pembelajar, CUSJ berupaya meningkatkan kinerjanya dengan menanamkan nilai inti (core values) para aktivis sebagai budaya profesional organisasi. Nilai inti yang dianut oleh CUSJ terbentuk dari keyakinan yang dimiliki oleh para pendirinya pada saat itu yang berjumlah 60 orang menjadi budaya organisasi yang terus hidup dan mengakar. Seperti harapan para pendiri bahwa kita semua harus komitmen untuk bekerjasama, saling percaya diantara anggota demi kesejahteraan keluarga dengan nilai-nilai saling menolong.

Dengan usia memasuki 29 tahun, CUSJ berkomitmen dan berupaya membangun organisasi menjadi lebih kuat secara keuangan dan melakukan pemberdayaan kepada anggota secara terus menerus. Selama ini yang menjadi fokus adalah memperbaiki kinerja keuangan. Ternyata CU yang sukses tidak hanya bicara soal kinerja keuangan tetapi harus berupaya juga meningkatkan kinerja sosial. Kinerja sosial menjadi komitmen bersama sebagai wujud  kepedulian (awareness) kepada persoalan yang dihadapi anggota. Jadi sangat jelas bahwa CUSJ harus mampu memberikan solusi. Sebagai upaya mewujudkan kinerja sosial agar CUSJ menjadi organisasi yang berkelanjutan maka ekonomi anggota menjadi fokus agar kesejahteraan yang didambakan tercapai. Upaya penguatan ekonomi anggota yang dilakukan oleh CUSJ bukan serta merta langsung jadi dan berhasil, tetapi melalui proses yang panjang dan penuh tantangan.

Tahun 2013 melihat kebutuhan akan pendampingan kepada anggota semakin penting, CUSJ yang pada saat itu ketua pengurusnya Antonius Sotorman mengundang Profesor Joko Murwono untuk memberikan seminar Keutuhan Ciptaan dan memberikan pandangan kepada peserta bahwa pemanfaatan sumberdaya alam yang bermartabat dengan konsep pertanian ramah lingkungan menggunakan pupuk organik sangat penting. Hal ini dilakukan karena keprihatinan terhadap lajunya kerusakan alam mengingat bumi sebagai tempat yang menghidupi menuju proses kehancuran apabila tidak dikelola secara bermartabat. Pemikiran mendasar pada saat itu adalah bagaimana mengembangkan potensi ekonomi anggota melalui budidaya hortikultura dan memaksimalkan metode dan cara bertani mengingat rata-rata pekerjaan anggota adalah petani. Kegiatan seminar ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian untuk menggugah anggota guna memanfaatkan peluang yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggal masing-masing. Sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut CUSJ mengirim pemuda-pemuda berbakat, mau bekerja keras untuk belajar pertanian ke Yogyakarta yaitu Neri, Rinto dan Injan. Mereka ditugaskan untuk mempelajari seluk beluk dan cara bertani yang baik dan modern. Sepulangnya dari belajar selama 3 bulan di Yogyakarta, Injan dan kawan-kawan membuat pilot project pembuatan pupuk Biosol yaitu pupuk organik ramah lingkungan dan pendampingan kepada petani padi secara berkelompok di persawahan Sedayang Dusun Deraman Desa Semandang Kiri Kecamatan Simpang Hulu Kabupaten Ketapang. Pada saat yang sama di Cenayan, Soruk dan beberapa kampung lainnya di Kecamatan Nanga Mahap Kabupaten Sekadau dilakukan pendampingan kepada kelompok-kelompok tani untuk berkebun sayur mayur. Dengan adanya kegiatan pendampingan tersebut anggota sangat antusias  mengikuti program pemberdayaan yang dilakukan CUSJ. Mereka menyadari pentingnya meningkatkan kualitas hidup keluarganya dengan menambah pendapatan alternatif dari berkebun sayur-mayur. Bahkan kelompok tani di Cenayan mampu memasok sayur-mayur untuk kebutuhan masyarakat di pasar Nanga Mahap. Melihat perkembangan yang cukup baik tersebut maka CUSJ melaksanakan lokakarya lanjutan penguatan tentang Keutuhan Ciptaan yang diselenggarakan di Nanga Mahap tahun 2016 dengan mengundang  Romo Wahyu Bangun Nugroho sebagai fasilitator. Romo Bangun mengajak para peserta seminar untuk terus memelihara Keutuhan Ciptaan dengan cara bekerja, menjaga dan melestarikan sumber-sumber penghidupan, mendorong kewirausahaan para anggota dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang melimpah terutama tanah untuk dikelola dengan baik. Selain pendampingan kepada petani hortikultura, CUSJ melakukan pengadaan bibit sahang unggul kebutuhan petani yang didatangkan langsung dari Balai Karangan Kabupaten Sanggau bekerja sama dengan Credit Union Mura Kopa yang ada disana.

Kelompok Tani binaan CUSJ
Kelompok Tani binaan CUSJ

Tahun 2017 dalam masa kepemimpinan Munaldus sebagai ketua pengurus Pusat Koperasi Kredit Khatulistiwa (Puskhat) yaitu Koperasi Sekunder yang menaungi CUSJ, gencar mengajak Credit Union anggotanya untuk memperbaiki kinerja sosial. CU yang berada dibawah Sekunder Puskhat wajib mendirikan koperasi sektor ril. Hal ini menambah  semangat para aktivis CUSJ yang kebetulan sudah memulai upaya-upaya pendampingan kepada anggota seperti yang diungkapkan diatas.

Langkah awalnya, CUSJ sebagai anggota Puskhat pada saat itu mengundang beberapa anggota yang ada di sekitar Balai Semandang untuk melakukan  focus group discussion (FGD) dan merencanakan pendampingan serta mendirikan koperasi sektor ril yang bergerak di bidang pertanian. Pada saat itu sesuai dengan hasil diskusi peserta rapat menetapkan nama SJ Agro sebagai nama koperasi baru serta berharap koperasi ini bergerak pada sektor agribisnis yang tugasnya adalah melakukan pendampingan kepada petani padi diwilayah Balai Semandang dan sekitarnya. Namun sayang, rencana ini tidak berhasil yang salah satu kendala adalah adanya keputusan pada saat pertemuan  di Puskhat yang menyatakan bahwa yang menjadi pengurus koperasi sektor ril tidak boleh berasal dari dalam internal CU. Sementara CUSJ sendiri berpandangan berbeda seperti yang disampaikan dalam lokarya koperasi sektor ril di Hotel Orchardz Pontianak tahun 2017 bahwa pengurus yang berasal dari luar internal CUSJ akan sulit bergerak dan berkoordinasi apalagi ini merupakan pengalaman baru sehingga yang dibutuhkan adalah orang-orang yang rela mengorbankan waktu dan pikirannya untuk mewujudkan mimpi tersebut dengan tidak memperhitungkan imbal balik dari segi keuangan serta membutuhkan orang-orang yang peduli pada gerakan pemberdayaan bersama.

Kegagalan tidak menyurutkan semangat untuk terus melakukan pemberdayaan kepada anggota dan masyarakat. Strategi baru terus dicari dan dicoba, dan akhirnya berada pada satu titik kesimpulan bahwa pemberdayaan dimulai dari membentuk koperasi sektor ril yang bergerak dalam usaha perdagangan ritel. Maka untuk mewujudkan mimpi tersebut pada 2 Maret  2018 di Aula CUSJ yang dimotori oleh Ketua Pengurus dan General Manager CUSJ sebagai inisiator, mengundang peserta dari kalangan aktivis untuk berdiskusi bersama guna mewujudkan mimpi yang sudah lama yaitu pembentukan koperasi sektor ril sebagai spin-off dari CUSJ. Diskusi menghasilkan kesepakatan untuk menamakan koperasi baru tersebut  dengan nama Koperasi Optimis Maju Bersama (KOMB) dengan nama toko ritelnya Okomo Mart. Pemberian nama toko Okomo Mart berdasarkan usul Fransiskus Lakon ketika rapat persiapan pembentukan yang berlangsung di Mes 2 CUSJ yang pada saat sekarang menjadi toko SJ Agro. Menurut Fransiskus Lakon pemberian nama ini mengambil filosofi bahwa prinsip kebersamaan, kekompakan menjadi modal utama ketika membangun toko baru ini. “toko ini dimulai dari kita, dikembangkan oleh kita dan untuk kepentingan kita bersama,” jelasnya dengan penuh semangat. Tahap awal rencana lokasi pendirian toko ritel adalah di Balai Berkuak, Kecamatan Simpang Hulu Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat dengan mempertimbangan berbagai faktor-faktor pendukung seperti ketersediaan pasokan, rantai distribusi, potensi pasar dan faktor lainnya. Melalui diskusi bersama peserta lokakarya juga sepakat untuk buka perdana toko ritel pada 8 Desember 2018 yang juga ditetapkan menjadi hari berdirinya toko ritel Okomo Mart. Agar pendirian koperasi baru ini sesuai dengan ketentuan, proses pendirian juga selalu dikoordinasikan dengan Dinas Koperasi Propinsi & UMKM Propinsi Kalimantan Barat selaku pembina khususnya melalui Deputi Bidang Kelembagaan dan menyarankan agar pendirian koperasi baru dapat dihadiri oleh perwakilan Dinas Koperasi & UMKM Propinsi Kalimantan Barat sebagai pemenuhan salah satu syarat pendirian koperasi baru.  Dengan mempertimbangkan berbagai aspek, khususnya legalitas maka pendirian Koperasi Optimis Maju Bersama (KOMB) dilakukan rapat ulang pendirian pada  2 Maret 2019 yang dihadiri oleh Deputi Bidang Kelembagaan Bapak Resmiguno. Selanjutnya, Okomo Mart yang juga menjadi anak bungsu dari koperasi sektor ril yang berada dibawah naungan Puskhat perkembangannya cukup baik dan menggembirakan. Keberhasilan ini harus dipertahankan dengan selalu melakukan inovasi-inovasi agar spin-off dari CUSJ  tetap berkelanjutan.

Pada satu sisi, anggota yang mayoritas petani tersebut, khususnya di Balai Semandang dan sekitarnya, dengan diskusi panjang serta berbekal semangat kerjasama dalam gerakan pemberdayaan CUSJ, maka pada 30 April 2019 didirikan lagi SJ Agro. Pembentukan SJ Agro jilid 2 ini didirikan dengan melihat potensi pertanian yang ada di wilayah Balai Semandang dan sekitarnya dengan cara menawarkan penyediaan sarana produksi dan bahan kebutuhan pertanian lainnya. Harapannya masyarakat sekitar lebih mudah mendapatkan kebutuhan sarana penunjang pertanian dan dengan harga terjangkau. Mimpi utamanya adalah meningkatkan hasil produksi pertanian. Dengan meningkatnya produksi petani maka bertani bukan lagi sekedar untuk mencukupi kebutuhan keluarga tetapi sudah mengarah kepada petani yang mampu hidup mandiri dari usaha pertaniannya. Maka 27 Juli 2019 toko SJ Agro diluncurkan dengan harapan lembaga baru ini menjadi cikal bakal pengelolaan sumberdaya yang dimiliki masyarakat lebih produktif seperti pengelolaan wisata lokal, pertanian buah-buahan dan penyediaan bibit bagi anggota dan masyarakat.

Upaya yang dilakukan oleh CUSJ diatas merupakan spin-off (pemekaran) usaha dengan pendekatan badan hukum yang berbeda untuk setiap unit yang baru dibentuk sehingga secara prinsip unit-unit baru tersebut memiliki badan hukumnya sendiri. Secara pengelolaanpun dilakukan tersendiri oleh orang-orang yang berbeda. CUSJ dalam hal ini bertindak sebagai penggagas dan inisiator serta berkontribusi dengan memberikan pendampingan dalam bentuk dukungan sumberdaya dan pemberian pinjaman sebagai modal awal sesuai ketentuan yang berlaku di CUSJ. Harapan besarnya adalah badan-badan hukum yang berbeda yang sudah dibentuk seperti CUSJ sendiri, OMB dan SJ AGRO dapat berkolaborasi dengan  kontribusinya masing-masing agar dapat meningkatkan kualitas hidup anggota sesuai dengan misi CUSJ itu sendiri. Dan keberhasilam untuk melakukan pekerjaan pendampingan kepada masyarakat dan entitas bisnis ini membutuhkan kerjasama dari semua pihak. Seperti yang diungkapkan oleh Pak Bedi Dahaban sebagai salah seorang penggiat koperasi yang kesehariannya bekerja sebagai Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Lamandau yang tinggal di Nanga Bulik lewat tulisan menyampaikan pandangannya bahwa Credit Union harus memperluas konteks pendampingan kepada anggota dengan konsep spin-off koperasi, yang lebih mirip dengan langkah diversifikasi usaha. Ia juga berpendapat bahwa anggota koperasi dapat menganekaragamkan suatu produk menjadi banyak variasi, baik volume maupun harga, untuk menyesuaikan daya beli, dan memperoleh keuntungan yang optimal. “Spin-off koperasi dan diversifikasi harus bertumpu pada tujuan untuk meningkatkan mutu kesejahteraan anggota” tegasnya.

Sementara itu Heriadi sebagai anggota di KC. Nanga Taman yang bekerja sebagai Ketua Divisi Teknis Penyelenggara di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sekadau melalui jawaban tertulis atas pertanyaan yang kami sampaikan melalui Manager Kantor Cabang Nanga Taman  mengatakan bahwa sebuah lembaga perlu melakukan perluasan usaha dengan mengembangkan usaha dengan tetap mempertimbangkan keadaan ekonomi lokal, nasional dan internasional yang saling berkaitan dengan memperhatikan pangsa pasar serta mengikuti perkembangan zaman tanpa mengabaikan budaya, tradisi dan konten lokal. “Perluasan usaha ini tidak hanya mengenai keuntungan/profit tetapi mempertimbangkan manfaat lain yang perlu dipertimbangkan manfaat atau dampaknya bagi anggota dan aktivis CUSJ serta wajib memperhatikan lingkungan sekitar”, jelas Heriadi. Lebih lanjut Heriadi mengingatkan bahwa perluasan usaha harus mempertimbangkan modal yang dimiliki oleh CUSJ itu sendiri dan menerapkan prinsip kehati-hatian dan yang terpenting mekanismenya tidak melanggar ketentuan yang berlaku. Sementara itu Yohanes Rongki sebagai anggota KC Nanga Taman  yang beralamat di Biang Marau, Desa Lubuk Tajau Kabupaten Sekadau mengatakan bahwa pada zaman yang berubah begitu cepat, CUSJ harus mampu menangkap peluang diluar usaha simpan pinjam yang kedepannya sangat menjanjikan dengan berperan sebagai inisiator atau penggagas. Usaha yang bisa digarap sambung Yohanes Rongki misalnya menggarap perkebunan kelapa sawit mandiri, perkebunan karet unggul dengan meningkatkan kualitas produksi agar harga dapat bersaing. Jadi CUSJ berperan sebagai pemberi motivasi dan inspirasi, sebagai jembatan anggota untuk mencapai kesejahteraan ekonominya, pungkas Yohanes Rongki yang bekerja sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa Lubuk Tajau ini. Sementara itu harapan besar akan spin-off  disampaikan oleh Yunus anggota CUSJ Kantor Cabang Balai Semandang yang meminta CUSJ kedepan mampu mendirikan pabrik pengolahan minyak kelapa sawit serta mempertimbangkan untuk bergerak dalam usaha perhotelan.

Keempat narasumber baik Bedi Dahaban, Heriadi, Yohanes Rongki dan Yunus sepakat bahwa dengan bertambahnya unit usaha yang berbeda perlu disinergikan oleh group yang berfungsi memayungi kegiatan serta memberikan pendampingan kepada anggota group-nya agar pemberdayaan lebih tearah dan berhasil. Hal ini juga sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Antonius Sotorman sebagai ketua pengurus CUSJ periode 2012-2014 yang kami mintai pendapat tentang pemberdayaan ini bahwa CUSJ tetap harus terus menerus melakukan pendampingan kepada anggota sebagai bentuk mewujudkan kinerja sosial karena sejatinya lembaga ini dapat terus menerus bertahan seperti sekarang karena CU bukan lembaga bisnis semata. Keberlanjutan dapat terwujud karena CUSJ peduli dengan masalah-masalah yang dihadapi anggota dalam mencapai kesejahteraan hidupnya. “CU bertahan karena menerapkan konsep bisnis sosial, menemukan solusi bagi masalah anggota sehingga betul-betul melekat dihati para anggota” pungkasnya menutup obrolan kami disiang 13 Oktober lalu*BAGORI MILEN.

Lokakarya usaha produktif CUSJ

Lokakarya Usaha Produktif CUSJ
 

Hits: 72

TINGGALKAN KOMENTAR